Masih berjalan secara pasti dengan langkah yang siap menantang keadaan didepan mata. Saat kutemukan tenang, lalu kucoba menyapanya dan tentu saja bersahaja dengan tenang tersebut menyahutnya. Ia mampu memberikan mimpi indah yang kudamba, namun entah mengapa akhirnya aku tersandung pada keadaan perang, lalu kucoba menjauh agar perang tak pernah terjadi, sayang bekasnya masih tersisa.
Santai, masih ada kekuatan dalam hati untuk menarik tenang yang lain, hingga kucoba menarik simpati dari hal-hal yang sedari kemarin menarik perhatianku. Sebuah senyum yang setiap saat masuk kedalam pintu itu, pintu yang saat itu tentu aku pun ada dibalik pintu tersebut. Tak mau kehilangan kesempatan kucoba mencari cara menarik tenang, lingkungan buatku agresif terhadapnya. Semua indah pun tercipta meski tidak seperti yang diharapkan lingkungan. Yaitu bersatu dengan tenang, tak apalah hingga kusapa tenang siang hingga sore mendatangi. Mencari tau keadaan hingga tenang datang kembali, memberinya senyuman karena tenang selalu buatku bahagia.
Malam pun menjelma, rindu akan tenang kuobati dengan rayuan pantun yang kusadap secara gratis oleh orang lain. Bertemanlah ingin dan rindu itu dengan balas yang tak sudah-sudah dari handphone yang sedari tadi mendapati pesan singkat penuh tawa dan tanya. Namun pesan itu pula yang membuat sebuah risih yang tercipta ia tak membalasnya. Kucoba menyapa dengan suara agar tenang tau kalo aku menanti jawabannya, sayang tenang memberikan ilusi tak pasti hingga segala ucap pun lari dari pertanyaan.
Dalam kenyataan itu, tenang sedikit meninggalkanku. Ia ragu untuk bersamaku, padahal aku tak mau beranjak dari tenang. Mungkinkah aku tersandung batu yang sama lagi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar