Halaman

Sabtu, Juli 28, 2012

Sepertinya

Ibu maafkanlah aku yang durjana ini
Kasihnya sadarkan aku padamu
Rindunya temani aku padamu
Kicau tawa & katanya menemani aku padamu

Hingga kurasa ia cocok untukku
ia seperti harmonisasi yang dulu pernah ibu beri
Yang kini aku malu memintanya pada ibu

Ibu...
Ikhlaskanlah ia bersama kita
Agar tenang hati ini
Agar terjaga nafsu ini
Dan agar ia juga menjadi ratu ke2 ku setelah ibu

Sendaku tari

Empat bulan kurang 2 hari kami jalani hari. Kocak tawa & derai tangis pun terurai dalam kebersamaanku dengannya.

Mulus jalan kami tapaki dengan senyum melati hangatnya berikan cerita indah yang slalu kami nanti.

Saat duka ia mulai menghasut diri tak berarti, hatiku risih dan kucoba menapihkan hasutnya melalui kasih.

Saat bahasaku menganiaya egonya, ia marah murka hadangkan cinta didadanya. Aku sedih pilu mohonkan maaf padanya, tak kuasa kurasa pisah yang bernaungkan kesalahanku padanya.

Hingga kusadari, aku telah menyakitinya demi memperbaiki egonya sendiri. Dan ia pun berontakkan amarah yang daku tak kuasa menghapuskannya dari salahku sendiri.

Disetiap kesempatan kurindukan kasihnya. Sama dengan kasih Tuhan yang slalu hidupkan aku. Tak rela kukehilangan cintanya. Sama seperti cinta Tuhan padaku yang berikan aku nikmat senantiasa.

Namun aku heran, kesalahan itu tak jua bisa kuhilangkan. Padahal telah kuingat-ingat salah yang pernah terlayangkan. Namun salah yang baru slalu bermunculan.

Kadang diawali dengan yakinku menfatakan itu adalah kebaikan, tak kusangka ia malah berakarkuadrat jadikan berattimbangan salahku dimatanya.

Meski ia slalu memaafkan aku, namun aq slalu takut kehilangannya. Takut jika akan melakukan salah lagi padanya.

Ya.. Allah...
Bantulah aku yang hina ini