Bersiap setelah isya & naiki motor bebek merah 120cc malam ini cukup dingin ternyata. Namun keadaan malam sudah terbiasa menggunakan jaket tipis yang cukup modis, semoga angin tak mau menepis kulit yang masih cukup kencang.
Tidaklah salah, saat rencana tidak terealisasi secara baik. Maklumlah yang buat hajatan juga kadang-kadang, karena kurang memahami situasi dan sayangnya waktu itu ia salah kaprah menanggapi sesuatu yang seharusnya ia rancang dengan baik. Karena memang ia sudah memberitahukan kepada beberapa orang, hingga acara pun tak tau ujung pangkalnya. Gagal adalah kata yang tepat pada malam itu.
Tak perlu merenungi dan kesal dengan kondisi, karena ini memang kerap terjadi. Mungkin suatu hari nanti ia hanya akan bercerita tentang malam ini tanpa ada introspeksi diri untuk dapat memperbaikinya.
Tenang dengan duduk manis diatas sofa yang cukup empuk seraya membumbungkan asap rokok yang baru saja dibakar. Asapnya pun melayang seperti rencana yang tak jelas pada malam itu, bukankah itu sesuatu yang sudah dapat dimaklumi?
Capek dengan pemandangan dinding-dinding ruangan dan sudut-sudut sepi, seorang teman memberikan segelas kopi dan memberikan ide menghabiskan waktu hingga larut dimalam itu, tak ada kata penolakkan, ia mengabulkan permintaannya dengan optimis menghubungi seseorang yang akan dijemput. Walau awalnya dering telpon tak kunjung dijawab, namun sms balasan ada yang menyahut, motor pun di gas rame-rame dan iring-iringan pun terjadi pada malam itu.
Sempat singgah didua tempat yang berbeda maklumlah motor pun perlu bahan bakar untuk menghangatkan mesinnya dan melumasi piston yang selalu begerak dinamis. Waktu pun semakin malam, hingga akhirnya sampai ditempat tujuan dan bercengkrama dengan seseorang yang dituju malam itu.
Segelas air dingin penawar haus malam itu pun diteguk, canda tawa tak lepas mengiringinya. Dengan sedikit berbisik dan menahan tawa namun semua itu terjadi apa adanya.
Sayang, malam itu sang lelaki merasa bodoh. Rasa kesal dan cemburu memburu, namun tak ingin mempercepat malam menjadi larut. Ia hanya terbius suasana yang ada sembari menekan perasaannya yang makin runyam. Untunglah teknologi sedikit berkembang, ada kegiatan yang dilakukan untuk menghadang sakit yang mengguncang. Malam yang tak pernah disangka akan kebodohan lekaki yang merasa teraniaya perasaan.
Pulang, melepas penat yang bergabung dengan sendu malam dalam diri, serasa kelam, hampa terkapar perasaan. Mungkin hanya dirinya yang merasa seperti tak kuasa. Dan ia berdoa sepanjang malam menghabisi tidurnya, ia bertanya pada Tuhan-Nya ia mengharap belas kasihannya. Dan ia sadar akan kesalahannya, ia berharap Tuhannya mengampuninya dan menghilangkan duka lara dimalam itu.
Ia pun tertegun, ia coba hilangkan semuanya. Tuhannya pun memberi jalan, di malam yang sunyi itu, ia ditemani oleh 2orang wanita. Mereka bercerita dari jarak jauh, tanpa saling berbalas suara, hanya ada suara ketikkan keyboard pada malam itu. Mulai dari kata patah hati, lelaki berkata, namun tak ia dapatkan yang ia mau. Hingga akhirnya ia pun bercerita dengan saudari perempuannya yang jauh dari rumah. Mereka saling berbalas kata, kadang terhenti karena harus melakukan sesuatu dibilik kecil. Malam yang begitu larut berganti menjadi pagi yang penuh dengan embun, kata-kata pun ditutup dengan ajakan tahajud pada subuh itu. Mereka pun menghentikan aktivitasnya. Dan mulai menyembah Tuhannya yaitu: Allah SWT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar