Sejak maret covid-19 mewabah di Indonesia, beragam kenyataan yang terasa dalam negara ini.
Kekhawatiran tertular, PHK, tak punya makanan dan hal² rutinitas manusia yang dirasa terganggu.
Tak kusangka wabah ini adalah relaksasi dari kepemimpinanku.
Ada hal² yang sebenarnya mengangkat aku dari loyolitas menjadi Super Motivasilasi (maaf, ini istilah slenge'an) ternyata selama ini aku tu adalah orang yang diusakan untuk dikerdilkan oleh sejawat yang non kompeten, non rajin, dan non workaholic.
Sementara mereka yang workaholic berusaha meminta perhatianku dengan menyisakan harap di mata mereka 'hello bos' give us strength to do this holly jobs tapi sayangnya mereka terlalu takut berkata begitu (semoga Allah ﷻ merahmati mereka).
Adalah seorang sahabat yang menyebut dirinya Administrator, ia membukakan pikiran ini. Menggugah inisialisasi, cangkangkan keraguan diri. Melesat kepermukaan tanpa keraguan. Ia tak segan berkata, ia selalu ☕ (klop) disaat ia tergelitik atau setuju dengan keadaan yang melanda.
Akupun terenyah ketika aku tau saat ia & keluarganya lapar, ia malah tak mengatakan itu padaku. Sungguh (saat ini) aku betul² menyebutnya Sahabat yang membuatku haru.
Dan hal² teori yang ia cerna dari keadaan dan kemampuanku menjadi dorongan tersendiri bagiku menjadi perisai lembaga yang kupimpin.
Terima kasih Ya Allah ﷻ telah memberikanku sahabat (lagi) tak jenuhku meminta agar engkau selalu mengirimkanku sahabat yang akan memotivasi aku menjalani kepemimpinan ini (selama engkau mau Ya Allah ﷻ)
آَمِيـٍـِـن ... آَمِيـٍـِـن ... آَمِيـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِن