Halaman

Minggu, Juni 22, 2014

Aqiqah Aira Alwi Imanina

Alhamdulilah, hari ini 22/6-2014 jam 09.00 aira sudah di aqiqah dengan seekor kambing jantan dengan berat 30kg.

Senang rasanya sudah menunaikan kewajiban aqiqah untuk anakku tercinta, dan rasanya begitu banyak kemudahan yang Allah berikan kepada kami selaku orang tua aira.

Mulai dari rejeki yang tak terduga, karena tidak akan menyangka kalau kelahiran aira kami dapat mengumpulkan uang Rp1.150.000 dari teman sekantor, ketua yayasan dan tetangga yang datang, juga masih ada tabungan untuk persalinannya yang tidak terpakai sekitar Rp1.200.000 jadi tinggal menunggu waktu saja luang saja. Karena memang waktu luangnya di bulan Juni, lalu ditentukanlah tanggal 22/6-2014 untuk aqiqahnya.

Namun yang namanya perjuangan juga mesti dilalui, dimulai dari proses pencarian kambing yang memakan waktu sebulan lebih. Karena memang tidak pernah termasuk dalam panitia pencari kambing, jadi pencarian pun dimulai.

Nitip cariin
Nitip mencarikan kambing diawali dari pembincangan dengan Pak kadir, namun beliau tidak juga bertemu dengan si pemilik kambing. Lalu kutanyakan pada Jay, memang butuh proses lama. Karena tak kunjung ada berita akhirnya kutanyakan pada Bapakku, kebetulan beliau punya kawan yang menjual kambing. Namun sayangnya harganya pula yang tidak bersahabat dimulai dari harga Rp3.000.000 dan kurangnya hanya Rp200.000 walau ada sedikit miskomunikasi tapi yang namanya pembeli adalah raja. Lalu kukatakan tidak jadi membeli dari teman bapak, padahal bapak sudah tulis nota. Sayang bapak tak kasih kabar padaku, untungnya ibuku segera memintaku menelpon bapak. Sempat berhutang kan gak enak juga, karena kebetulan masih ngarap gajian yang tinggal 2minggu lagi.

Lansung ke kandang
Tak buntu soal harga kambing yang mahal, berdasarkan informasi yang diberikan Jay tentang harga kambing 1.800.000 akupun semakin semangat. Kutelpon jay, dan setelah menentukan hari bertemu kami pun segera survey. Setiba di kandang HABIB tawar menawar harga pun dilakukan. Mulai dari harga Rp2.400.000 untuk ukuran 30kg dimana Rp80.000/kg harganya. Hingga jatuh pada pilihan harga yang tidak berkilo yaitu Rp2.000.000. Dan untuk tanda jadi kuberikan Rp200.000 kepada penjual.

Selang sehari, pak kadir pun memberi saran. Bahwa 25kg itu tanggung. Jadi ibuku pun bersedia menambah kekurangannya sebanyak 500.000 dimana Rp100.000 sebagai upah potongnya. Jadi kami tinggal terima bersih saja.

Ternyata tempat jual kambing & pemotongannya berbeda tempat. Jadi, aku mesti mencari tempat pemotongan. Namun tidak begitu susah ternyata, karena tempat sudah di kenal oleh masyarakat. Sesampai di TKP. Kambing pun siap-siap untuk di potong, sebelum proses itu aku harus memberikan nama pada si pemotong kambing. Awalnya ia mengatakan bapak yang motong? Ku katakan, tidak aku cukup melihat saja. Setelah dipotong kambing pun dicincang (potong kecil2) sembari menunggu. Akupun disiguhi minuman sirup dingin yang menyegarkan. Ditempat pemotongan ini cukup lengkap, konsumen bisa minta kambingnya dimasak in. Tentunya dengan penambahan biaya sebesar Rp600.000 dan mereka akan menyiapkan alat-alat untuk dihidangkan.

Setelah cincang kambing siap, daging mentah ini kubawa ke New Samudra Panindo untuk dimasak oleh Ali imran (alias toke). Karena ia bersedia memasakkan, dan juga kedai nasi adalah milik bapakku. Jadi tidak jadi persoalan.

Nah, sekarang tinggal pulang ke rumah dan menyiapkan segala sesuatunya untuk Marhaban / gunting rambut putriku setelah shalat isya dan rencananya acara akan ditutup dengan makan malam bersama sanak keluarga, teman & warga sekitar komplek

Jumat, Juni 13, 2014

Pemeran Pengganti

Alhamdulilah, malam yang indah ini seperti biasa, kuhabiskan waktu bersama istri & anakku yang sudah memasuki usia 2 bulan + 14 hari.

Walau masih mengerjakan kerjaan kantor, namun tak tega rasanya kalau tidak mengindahkan obrolan yang dimulai oleh istriku. Tak mengapa, masih ada esok untuk melanjutkan pekerjaan kantor pikirku.

Cerita malam ini terasa spesial, karena istriku bercerita tentang kisahnya di masa lalu, ketika ia telah tamat sekolah dan mendapatkan pekerjaan pertamanya. Rasanya haru kudengar, karena ia merasa berkewajiban membantu ekonomi keluarga meski harus rela menjadi pembantu rumah tangga.

Alhandulilah, ia mendapatkan perlakuan yang baik dari keluarga majikkannya. Ia tidak merasa diperlakukan semena-mena, walau ia harus menahan kantuk karena setelah sahur mesti harus membantu ibu majikkan memasak tajil. Dan itu ia lakukan sebulan penuh puasa, kebetulan mulai kerja sudah puasa. Walau tidak begitu detail ceritanya, istriku cuma bekerja 3 bulan disitu. Hal ini karena ibu majikkannya mesti berangkat ke louksumawe aceh, karena yang tinggal hanyalah 2 orang anak lelakinya, ibu majikkannya pun menyuruh istriku pulang kampung.

Oh.. Ya
Terus apa hubungannya dengan judul peran pengganti???

Hihi... Cerita tentang istriku itu menyadarkan aku. Bahwa pekerjaanku dalam mencari uang ternyata diawali karena Menggantikan orang.

Mulai dari MHS, aku bekerja disana diawali karena adanya guru yang akan keluar, hingga akhirnya berhenti dan aku pun lansung  diterima di Al-Azhar juga menggantikan guru. Bedanya di Al-Azhar aku menggantikan guru yang sudah keluar. Dan juga kemarin disaat aku ngajar ke LP3i Kolej Islam Muhammadiyah Singapur aku juga menggantikan dosen yang telah keluar. Bedanya dengan Al-Azhar, di LP3i KIM aku menggantikan dosen yang dipecat.

Hihi... Lucu juga
Yang penting Alhamdulilah ^_^

Jumat, Juni 06, 2014

Entah

Judulnya seperti lagu iwan fals yak. Hihi... Tapi itulah yang ada dalam benakku, semenjak mertua pulkam. Istri terlihat sedih & kayanya agak tertekan dengan keadaan.

Kadang emosinya naik turun, hmm... Padahal ibuku sudah membantu masak pagi-pagi. Adeknya kadang2 pergi ke pasar untuk belanja. Istriku cukup mencuci pakaian serta merawat anak kami saja.

Tapi, karena servis dari mertuaku. Membuat istriku merindukannya disela-sela sepi menghadangnya. Dan aku hanya bisa menghiburnya sedikit, karena beberapa hal membuat ia sedih karenaku.

Entah, oh entah

Senin, Juni 02, 2014

Sendu

Ada rasa sedih yang tak terkatakan. Setelah rasa gembira bergejolak, dan rasa syukur yang terlafadzkan.

Sedih, karena merasa sebuah kata yang membuat itu sendu. Lidah pun jadi kelu dibuatnya.

Hal ini karena modal dalam logika yang tak ada. Masih terasa belum yakin dalam waktu dekat akan punya materi yang banyak. Padahal dalam kuasa Allah, apalah yang tidak mungkin.

Tapi, apa hendak dikata. Kata sudah terlanjur, dan sedih sudah berlukar. Tinggalkan menung hingga kini.

Terimakasih, telah membaca semoga tidak terulang lagi