Semangatku mulai menggairah keseluruh tubuhuku yang sebenarnya tidaklah begitu sehat beberapa hari ini. Aku tetap senang bisa menjemputmu. Lalu setelah kubantu ibuku serta pamitan tentunya setelah kucuci mukaku dan berdandan rapi. Akupun meluncur bersama sepeda motorku yang sudah kuhangatkan.
Sang waktu rasanya berjalan begitu lambat, seakan lari sepeda motorku tidak begitu cepat padahal pedal gas sudah kuayunkan dengan begitu sigapnya, namun apalah dayaku memang segitu kemampuan sepeda motorku (hhe...)
Beberapa blok sudah kulewati tinggal mengeker arah menempatkan sepeda motorku disela-sela keramaian yang ada disekitar PT tempat kekasihku bekerja. Setelah rasanya kudapati tempat yang pas, kuarahkan motorku kesana, belum sempat parkir ternyata ia sudah mendekatiku. Namun ada yang beda, ia berjalan sambil menempelkan Hp nokianya pada telinganya.
Ia berjalan dengan pasti dan penuh dengan senyuman, yah sedikit ada firasat yang entah mengapa begitu mengganjal dipikiranku. Tapi kukatakan pada hatiku. Tidak apa-apalah paling juga yang nelpon dari keluarganya. Lambat laun kekasihku sampai dihadapanku, masih dengan menempelkan hp-nya. Ia masih asyik saja bercerita, hingga ia berkata "ini mau naik carry, udah dulu ya" namun sang penelpon tidak jua mau menutup komunikasinya dengan kekasihku. Hingga akupun harus menunggu beberapa menit agar mereka kelar bicara.
5menit pun sudah berlalu, akhirnya kekasihku menaiki motor merahku yang tadinya ia bilang carry. Sebenarnya ada rasa lirih dihati, namun kusingkirkan saja agar dapat bercanda guruau dengannya melepas kerinduanku padanya. Motorku pun melaju, tentunya dengan cerita ini dan itu disepanjang perjalanan pulang. Tak lupa kutanyakan padanya "Mau sarapan apa?" ia berkata "Lontong Pecel" karena bukan kali pertamanya membeli lontong pecel aku pun tak ragu lagi melanjutkan perjalanan menuju tempat membeli Lontong Pecel.
Setiba di traffic light, kekaksihku membahas tentang pertanyaanku sebelum ia menaiki motor "Tadi siapa yang nelpon" karena ia merasa tidak penting maka ia katakan nanti saja. Lalu sekarang di traffic light ini, ia mengatakan tadi yang nelpon itu adalah mantan kekasihnya yang ingin memperkenalkannya kepada ibunya. Lalu kupotong pembicaraannya dengan menanyakan "Koq tadi bilangnya naik carry? koq gak bilang kamu saya jemput? Malu ya?" ia pun menjawab "Enggak bukan begitu, gak enak dicerikan diatas motor" Dan akupun penuh dengan tanda tanya ????
Traffic light menunjukkan warna hijau tanda agar pengendara boleh melewati persimpangan. Kekasihku pun mengumbar alasanya mengapa ia mengatakan naik carry. Tentunya akupun menyimak. Dan ia pun bernostalgia tentang mantan kekasihnya yang lalu. Karena memang sempat pula si cowok ini menelpon kekasihku seminggu sebelum kekasihku putus dengan mantannya yang dulu. Dan ia mengatakan "Mas, gak usah ganggu aku, aku udah mau nikah!" dan si cowok itupun kembalu menelponnya seminggu setelah ucapan kekasihku itu padanya. Dan ia bertanya "Jadi bagaimana pernikahannya?" kekasihku menjawab "Batal mas, ia sudah nikah dengan cewek lain" Lalu kekasihku mengatakan kepadaku, kalau ia bakal malu jika ia mengatakan sekarang ia sedang berpacaran namun nantinya malah batal nikah.
Rasanya dalam hati aku tak dapat menerima itu semua, rasanya ia tak adil padaku. Dan akupun terdiam. Tak berselera untuk mengucapkan sepatah katapun. Kuluncurkan sepeda motor ketempat pembelian lontong pecal. Kekasihku berkata "koq diam?" aku lalu berkata "Ya sudahlah minggu besok pergi saja temui mantanmu itu biar bisa kenalan ma ibunya" kekasihku cuma bisa menajwab "engga".
Setibanya ditempat pembelian lontong pecal, kekasihku menanyakan "mau sarapan apa?" Rasanya aku sudah kenyang duluan, lalu kukatakan "sudah sarapan tadi dirumah" lalu ia bertanya "sarapan apa?" kujawab "Minum milo dan kue (padahal bohong)" dan ia malah berkata "kan cuma itu aja" Karena malas kelamaan berdiri didepan warung orang lalu kukatakn saja, "samain aja". Sungguh hatiku begitu gusar, namun kekasihku mencoba meraba-raba agar aku tidak marah.
Aku tak tau mau berkata apa, atau mau mencandai apa. Hingga akhirnya sampai dikost'an kekasihku, ia memintaku untuk singgah dan sarapan bersama. Demi kedamaian tiada pertempuran akupun memakirkan motorku didepan kost'an nya. Dan menunggu ia selesai mandi, kami pun sarapan bersama. Rasanya amarahku udah mulai reda. Ia berkata ia mau mencuci pakaian lalu kutakan "baiklah, pinjam bantal ya buat tiduran". Dan akupun menunuggunya hingga rampung cuciannya.
Selesai mandi dan memotongkan kuku-ku. Kami berencana untuk pergi bersama menikmati hari minggu yang cerah ini. Namun ia malah berkata "Jika yang nelpon aku tadi mau melamar aku bagaimana da?" sontak jiwaku memanas, otakku tak kenal dingin. Aku diselimuti oleh amarah yang tadi udah kusingkirkan. kujawab dengan lantang "ya sudah terserah kamu saja, jika kamu memang mengingikan dia nikah saja dengannya!!" kekasihku malah menimpali aku dengan seribu kata-kata amarahnya sambil berkata "klo begitu aku mau pergi !!" lalu kutarik tangannya dan berkata "mau kemana ?". "Aku mau pergi, katanya kan terserah ma aku" kata kekasihku masih dalam memegang tangannya kusuruh ia untuk duduk dengan nada paksa. "sini, duduk !!!" dan kuluapkan segala amarah yang telah tertaja dari aku menjemput ia, sampai mendengarkan kisah mantannya dan juga mendengar pertanyaan terakhir kekasihku.
Kutakmau ia menduakanku, menilaiku setengah-setengah, tidak mengakui kehadiranku dan membandingkanku dengan cinta dimasa lalunya yang sudah kusam. Ku protes semmuanya melalui amarahku tak kupedulikan ada tetangga disebelah yang sebenarnya sudah mulai nguping. Ia (kekasihku) menangis, ini merupakan pertama kalinya aku marah padanya setelah kulalui 9bln bersamanya. Tangisannya tidak seperti biasanya, ia ketakukan, bahkan ia tak mau melihatku. ia pun berkata: Bahwa kedua orangtuanya sering marah, apalagi bapaknya. Dan ia sangat takut sekali memiliki suami yang pemarah, sontak hilang semua rasa marah dihati, berganti ibaku padanya, namun yang terjadi malah ia sekarang takut padaku.