Kuterpa angin malam dalam rinttik hujan yang membasahi asa yang kurasa.
Dinginnya hari ini, lalukan sayu mataku yang tersipu-sipu
Rintik air hujan jadikan melodi ikhlaskan diri tuk berehat
Sadari telah kutaja malam ini dalam satu keheningan
Sudah lama rasanya kuberdamai dalam keriangan, candaan & perhatian penuh kasih
Alangkah bersyukurnya diri ini, bukan karena dipaksa atau karena terpaksa
Geliat hidup sedari dulu, tampilkan sengketa, keanggunan dan perjuangan tanpa henti
Mungkin inilah kuasa, inilah dinasti dan inilah keharusan
Bukan sebuah kesimpulan yang mesti diteorikan
Hari ini, ibuku meneteskan air mata saat kuceritakan perasaanku
Hati yang panas ini, terkoneksi dengan lidah yang terselip nada kesal
Tidak, aku tidak sedang dimarahi, akupun tidak sedang diceramahi ibu
Cuma sengketa prasangka yang kusayangkan berlayar dari orang lain
Gencatkan nada negatif, jadikan hipotalamus otak pun makar
Ibarat ombak yang siap mendobrak karang, sayang tidak lansung pecah
Pikiran adilkan perasaan, tubuh gemetar tiada tertahan
Ayah maafkan anakmu, engkau sedih dikerumunin galau tak menentu
Bukan salah ayah, mendengar kata tidak-tidak itu
Kupikir
Kuharus tetap hidup
Agar semua ini tuntas seperti yang kumau
Semoga Allah juga setuju denganku, آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين
Batam, 28 Sept 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar