Tak lupa gumam kias pertengkaran kutanya padanya, ia adalah niniku. Orang yang sudah menjadi bagian dari keseharianku, gadis manis yang selalu kutatap sepanjang hari.
Ada sesal dan maaf yang terkatakan dari mulut kami, tak ayal kisah - kisah menyakitkan pun kutuang dalam pertemuan empat mata tadi malam. Ia berkata jujur aku adalah orang yang selalu menyakiti perasaannya dikala ia membutuhkan tempat untuk mencurahkan segala keluh kesah, dan disaat ia harus mengatakan rahasia. Hingga yang terjadi ia hanya bisa memendam dengan berbuihkan busa amarah di mulutnya.
Sering kusesali hal yang telah terjadi, terkadang malah menjadi kenak - kanakan padanya, yang ada ia malah murka dan mulai membenciku. Lambat laun pun ia mulai sadar kalau aku tak sebaik mantannya yang selalu bisa meredakan amarahnya. Sedih kurasa seakan tak berarti apa aku ini untuknya.
Lalu kutanyakan sedihnya disaat bersama mantannya, ia berkata tidak ada yang sedih selain perpisahan karena pengkhianatannya. Semua yang ia jalani bersama mantannya adalah hari yang meneduhkan, hingga tak terselip sepatah sesal pun diwajahnya ketika ia menceritakan itu semua.
Entah, apa yang kupikirkan. Aku kosong, seakan tak tau bagaimana aku harus bertindak disaat sakit melanda dan pusing dengan keinginannya saat ia meminta untuk dapat meringankan bebannya yang ia katakan melalui isyarat yang aku tak paham.
Kadang aku berfikir aku seperti tidak punya naluri untuk itu, kejam rasanya saat aku melakukan hal yang tidak sengaja setiap ia mambutuhkan aku disisinya, karena aku belum paham apa isyarat yang ia berikan. Disaat ia berkata banyak dengan penuh pilu dan rasa sedih, kucoba menyelami. Tapi tak kudapatkan tempat selaman itu. Namun ketika ia bigung memutuskan sesuatu, ia diam seribu bahasa aku cerewetkan diri namun tak kudapatkan sepatah kata pun.
Aku sedang belajar, untuk tidak mengingkari setiap pintanya yang pernah aku sanggupi. Namun ternyata itu saja belum cukup untuk bisa mengenalnya lebih jauh lagi kedalam segala permasalahan yang timbul dalam kehidupannya.
Ia tak seperti aku, yang tidak begitu menyelam dalam kesengsaraan. Karena bagiku solusi ada dimana - mana. Tapi tak bisa kuingkari, aku butuh teman cerita disaat sedih. Maka samalah ia denganku, butuh orang penenang disaat sulit itu datang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar