Halaman

Jumat, November 14, 2008

Tiga Kisah

Sengaja kutorehkan bahasa ini sebagai tanda kesamaan dari 3 persahabatan yang kutaja lama semenjak masuk di Univ. Int'l Batam. 3 orang sahabat dengan rasa cinta yang tak bisa diterka secara logika, tidak dapat diterima secara akal dan cendrung menyisakan bigung yang mendalam. Aku pikir ini bisa menjadi sinetron yang menarik nantinya jika aku adalah seorang sutradara yang profesional, dan jika itu terjadi maka akan kuberi judul "Cinta dan Logika"

Spontan, awalnya aku ga begitu mengerti dengan ini semua. Hanya berawal dari rasa suka. Masing" temanku selalu mengalami hal yang hampir serupa dengan yang aku alami. Walaupun Fitra (cowo,red) adalah lelaki yang tidak pernah mengenal kata lelah mencari wanita namun akhirnya STAG dengan seorang gadis belia umur belasan yang sekarang masih duduk di bangku SMA. Dixon si pendiam angkuh, yang menutupi diri dari cerita cinta akhirnya harus rela melihat sang pujaan bergandengan dengan pria lain. Dan aku masih saja berharap cinta pada seseorang yang menolak dekapanku padanya.

Kalau dulu, dengan gampangnya aku meninggalkan sesesorang. Dan aku pun berjalan tanpa beban, walau ku tau dia disana bercucuran air mata mendengarkan kata Putus dariku. Fitra pun begitu, rasa bosan yang kian memuncak membuat kata putus dari cha" tak terasa hangat. Tak ada tangisan yang keluar dari matanya dan tak ada rasa sesal yang mendalam di palung hatinya. Yang ada hanya satu kata "CARI PACAR LAGI" karena itu belum pernah aku melihat dia menangisi sebuah kata putus, seperti yang telah dilakukannya sebulan yang lalu. Pilu juga hatiku melihat teman seperkulihanku itu menangis hanya karena menerima SMS putus dari Pu"t. Dixon yang selalu dibaluti canda dan tawa, 3 minggu lalu puyeng. Rasa sesal mulai menggerogoti tubuhnya, stress bukan hanya karena pekerjaannya yang menumpuk disana sini. Tapi juga karena beban perasaan yang datang tiba" karena rokok malam itu. Sang pujaan pun tak mau lagi bemesraan dengannya. Diam" selama ini dixon selalu mengusir sepi dengan ber-SMS setiap waktu pada si W (cewe,red) yang rasanya bisa menerima dia. Maklum walau gesit namun dixon tak mampu berkutik kalau sudah diambang suka. Akhirnya Hanphonelah yang menjadi sarana segalanya ga apa" kalau ga ketemuan yang penting komunikasi lancar (he", padahal g pernah ketemuan). Sebatang rokonya menghabiskan harapannya pada sang W, apalagi melihat W bersama Pria lain Wah... ga tau tu gmn perasaan dixon sekarang, karena dia malas bercerita tentang dirinya.

aku mulai bergumam, ada apa semua ini?
ini bukanlah halusinasi, tapi sebuah kenyataan hidup dimana semuanya tidak bisa diterka. Karena yang berlayar akan segera berlabuh dan kemudian berlayar lagi menerjang ombak yang semakin mengganas dalam laut kehidupan nan luas.

Tidak ada komentar: